Kumpulan artikel untuk semua

25/06/2009

toaster

Filed under: Beranda — kaylajg @ 11:07

Seorang ayah tidak harus jangkung, berdada bidang, tampan, dan pandai. Cintahlah yang membuat mereka hebat. (Pam Brown)

Jika Anda memilih hadiah untuk orang lain, toaster – pemanggang roti – termasuk dalam daftar benda beresiko. Toaster cukup pantas untuk sepupu yang namanya tak Anda ingat atau bujangan kikuk yang hanya bisa mengoleskan mentega dan selai kacang pada setangkap roti tawar; toaster tidak boleh diberikan kepada istri sebagai hadiah ulang tahunnya atau ulang tahun perkawinannya. Tetapi toaster pemberian ayahku adalah salah satu hadiah paling berkesan dan mengharukan yang pernah kuterima.

Pada tahun ketiga kuliahku, pada suatu akhir pecan, aku pulang ke tanah pertanian orangtuaku tempat aku dilahirkan dan dibesarkan. Akhir pecan itu kuhabiskan dengan mengobrol bersama ibu dan adik-adikku-semua perempuan.

Aku bercerita tentang kuliahku, kawan sekamarku, dan pacarku waktu itu. Aku membawa pulang beberapa foto. Ada foto town house yang sewanya murah, tempat aku tinggal bersama dua kawanku. Ibu dan adik-adikku tertawa gelak-gelak melihat fotoku dengan tampang cemas mencoba mengipasi smoke alarm dengan satu tangan sementara tangan yang satunya memegang secuil roti tawar hangus (toaster loakan yang rewel selalu jadi bahan olok-olok di antara para mahasiswa). Ayahku seperti biasa, hanya duduk diam dan tidak ikut nimbrung dalam obrolan dan gelak tawa para perempuan di keluarganya.

Pada hari terakhir libur akhir pekanku, aku mencuci piring di dapur. Tanganku kubenamkan dalam air hangat penuh busa sabun. Sambil melamun aku memandang ke luar jendela, ke gudang peralatan. Ayah sedang bekerja di sana. Dia dan orang upahannya sedang membungkuk di atas mesin penabur benih, memeriksa rantai dan as, mengetuk-ngetuk bagian-bagian mesin dengan kunci inggris. Memandang dua lelaki yang tekun bekerja itu, aku jadi ingat masa kecil. Dulu aku sering membantu-bantu Ayah bekerja di gudang peralatan itu, megulurkan alat-alat kepadanya, memegangi alat pertanian yang karatan seperti yang diperintahkannya, tapi yang lebih sering aku hanya menonton Ayah bekerja seperti sekarang. Aku tidak ikut bekerja. Aku orang luar, aku mahluk asing di dunia penuh oli bekas, besi berkarat dan baja. Aku menebak-nebak, apa yang mereka perbincangkan sambil bekerja. Cuaca? Pertandingan hoki? Atau mereka bekerja tanpa bicara? Obrolan lelaki di lading, di kebun atau di gudang peralatan sangat asing bagiku. Tak dapat kumengerti. Sejujurnya, yang kubayangkan hanya dehaman atau dengusan, perintah, suruhan, makian, umpatan, dan desah lega karena keberhasilan melakukan sesuatu. Lain sekali dengan saat-saat mengobrol yang kunikmati bersama ibu dan adik-adikku sambil berbaring-baring di tempat tidur besar.

Pada hari itu, selama dua jam terakhir sebelum kembali ke kota untuk kuliah, dengan hati sedih aku memandangi ayahku di dalam dunianya, dunia yang tak terjangkau olehku. Aku merasa kehilangan dia. Aku tidak tahu, apakah Ayah lebih suka dan sengaja mengasingkan diri, atau apakah sebenarnya dia ingin masuk ke dunia kami-dunia perempuan-yang baginya jauh dan tak terjangkau.

Setelah selesai mencuci pring bekas makan siang, aku naik kekamarku untuk membaca-baca, berkemas-kemas, dan bersiap untuk perjalanan jauh kembali ke universitas. Jam dua siang aku harus menjemput Ibu di tempat kerjanya agar dia bisa mengantarkan aku. Aku mendengar Ayah masuk ke rumah dari gudang peralatan. Kemudian dari arah kamarnya aku mendengar bunyi air mengucur, dengung alat cukur listrik dan bunyi lac-laci dibuka dan ditutup. Ayah keluar dari kamar, baju dan celananya bersih. Aku heran, hendak kemana Ayah sesiang itu. Tiga pulu menit kemudian aku turun, tas-tas dan buku-buku memberati tanganku. Aku pergi ke mobil. Ayah berdiri di ambang pintu, hendak mengucapkan selamat jalan. Dengan tergesa-gesa kulemparkan barang-barangku ketempat duduk belakang, lalu aku duduk di belakang setir.

Waktu aku menjemputnya, Ibu heran melihat aku sendirian di mobil dan bertanya di mana Ayah. Kata Ibu, sudah lama Ayah ingin mengantarkan aku agar bisa melihat tempat tinggalku dan universitas tempatku menuntut ilmu selama dua setengah tahun terakhir. Sekarang aku mengerti mengapa Ayah tadi mandi, bercukur, dan mengganti pakaian kerjanya-overall hijau. Ayah ingin ikut, tapi aku tidak mengajaknya. Tak terpikir olehku bahwa Ayah ingin mengantarkan aku. Aku terkejut dan malu sekali. Cepat-cepat aku mencari telepon umum untuk menelpon Ayah dan mengabarkan bahwa sepuluh menit lagi kami akan menjemputnya.

Setelah kami jemput, Ayah yang menyetir dan aku duduk disebelah tumpukan tas dan buku-buku. Aku terdiam, tak bisa menemukan kata-kata yang tepat untuk memulai berbicara. Satu-satunya yang terlintas di pikiranku adalah apa yang sebelumnya tak pernah kuucapkan. Ketika kami melewati pusat kota kelahiranku, Ayah meminggirkan mobil, memarkirnya, lalu menghilang masuk ke took peralatan rumah tangga. Beberapa menit kemudian, dia kembali ke mobil dan mengeluarkan sebuah kotak kecil berisi toaster baru.

“Kau dan teman-temanmu mungkin butuh ini.” hanya itu yang dikatakannya.

Lirih aku mengucapkan terima kasih. Dengan toaster di pangkuan dan tangan gemetar memeganginya, aku memandangi belakang kepala Ayah dan bahunya yang tegak dan kukuh. Aku ingin memeluknya, menyentuh tangannya, dan mengucapkan terima kasih lagi, tetapi kami tidak terbiasa dengan bahasa tubuh seperti itu. Karena itu, aku hanya duduk diam sambil memandangi gambar mengkilat yang menghiasi kotak itu. Waktu itu, sepertinya toaster itu sudah cukup mengungkapkan apa yang kami rasakan.

Bahkan sekarang, di pagi hari yang tenag dan sepi, ketika aku memandang ke luar jendela dapurku sambil menunggu roti tawar “melompat” dari toaster warna perak yang baru kubeli, aku masih ingat kejadian lima belas tahun yang lalu itu dengan jelas. Hari itu aku duduk di jok belakang mobil orangtuaku dengan toaster baru di pangkuanku. Aku memandangi belakang kepala ayahku, air mata membasahi pipiku. Kadang-kadang, sebagai orang tua dan sebagai anak kami tidak menemukan cara atau kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan perasaan kami. Kadang-kadang, kata-kata tidak perlu diucapkan, karena sebuah toaster bisa menghangatkan hatiku.

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: